Journal of Multidisciplinary Learning (JML) is a peer-reviewed journal published by Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP) . Journal of Multidisciplinary Learning (ISSN-elektronic: 3124-6109 ) first published in February 2026. Journal of Multidisciplinary Learning encourages interdisciplinary and multidisciplinary research that bridges theoretical frameworks and practical applications, promotes innovation in teaching and learning, and examines learning processes in fo…
Current Issue
Vol. 1 No. 2 (2026): Journal of Multidisciplinary Learning
August 2026
Open Access Scholarship
Research, ideas and scholarly communication made accessible to readers worldwide.
Vol. 1 No. 1 (2026): Journal of Multidisciplinary Learning
This study aims to eximine the perceptions of male and female students regarding career planning, eith the goal of contributing to the development of career guidance strategies that are responsive to gender-spesific needs. A descriptive qualitive approach was employed, and data were collected an online questionnaire distributed via Google Forms. The participants consisted of 208 senior high school and vocational high school student in Kendari, Indonesia. Data anlaysis was conducted using Rasch modelling to identify perceptual differences between male and female students. The result reveal that male students tend to more frequently envision future success and demonstrate greater reliance on parental involvement in their career planning. In contrast, female student appear to be more proactive in pursuing extracurricular cources outside of school to support their carrer aspirations. The findings also underscore the significant influence of peers and family in shaping student’ career decision-making processes, as well as prevalling tendency among students to depend on luck rafther the enganging in well-strucured planning. Despite these challenges, the study also indentifies encouranging developments, sch as student intiative to enhance additional skills, consideration of multiple factors on career selection, and the presence of crearly defined goals regarding higher education pathways.
Mudik merupakan kebiasaan yang menjadi kebudayaan masyarakat Indonesia karena dinilai menjadi suatu kegiatan wajib saat hari raya idul fitri berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai tradisi Lebaran, terutama terkait dengan tradisi mudik dan berbagai aspeknya seperti persiapan, perjalanan, kendala, serta penyesuaian budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode naratif. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam untuk mengumpulkan data dari dua narasumber yang berasal dari suku Jawa dan Sunda mengenai relevansi tradisi mudik saat lebaran. Wawancara dilakukan secara daring dengan menggunakan protokol wawancara yang berisi dimensi, aspek, indikator, dan pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan seperti tradisi yang dilakukan, frekuensi mudik dalam setiap tahunnya, persiapan yang dilakukan, perbedaan tradisi di daerah asal dengan tempat tinggal beserta permasalahan yang muncul dalam tradisi mudik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perayaan Lebaran antar daerah bervariasi, dari persiapan hingga tradisi khusus. Perbedaan ini tidak menghalangi pelestarian nilai Lebaran. Fleksibilitas dan adaptasi penting untuk mempertahankan identitas budaya di lingkungan baru. Keluarga inti berperan dalam melestarikan tradisi seperti nilai silaturahmi, toleransi, kerja keras, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Lebaran menjadi momen menghargai nilai luhur yang mempersatukan bangsa majemuk.
Dalam era digital, media sosial menjadi sarana utama remaja dalam membangun identitas sosial dan mencari validasi. Kebutuhan afirmasi daring—berupa pencarian perhatian dan pengakuan melalui platform digital—diperkirakan berperan dalam munculnya Fear of Missing Out (FoMO), yaitu kecemasan kehilangan informasi atau pengalaman sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kebutuhan afirmasi daring dan FoMO pada remaja pengguna media sosial di SMP Negeri 26 Tangerang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei terhadap 24 siswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis dengan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kebutuhan afirmasi daring dan tingkat FoMO. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan literasi digital, strategi intervensi pendidikan, serta upaya kesehatan mental untuk mendukung kesejahteraan remaja di era media sosial.
Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mendorong munculnya berbagai aplikasi kreatif yang dimanfaatkan oleh generasi muda. Generasi gen Z dikenal sebagai generasi digital native yang aktif memproduksi dan mengonsumsi konten audio-visual.Salah satu aplikasi pengeditan video yang populer di kalangan Gen Z adalah CapCut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan aplikasi CapCut pada Generasi Gen Z serta dampaknya terhadap kreativitas dan literasi digital. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber berupa artikel jurnal, buku, dan publikasi ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa CapCut berperan sebagai media ekspresi diri, sarana pembelajaran, serta peluang pengembangan keterampilan digital bagi Generasi Gen Z. Namun, penggunaan CapCut juga memiliki tantangan berupa potensi ketergantungan terhadap media sosial. Oleh karena itu, diperlukan literasi digital agar penggunaan aplikasi CapCut dapat memberikan manfaat optimal.
This research was conducted at Jayakarta Junior High School. In the case of Jayakarta Junior High School, mental health issues arise due to lifestyle trends that are prevalent among adolescents, leading to bullying behavior towards those who do not conform to these trends. This bullying is known as body shaming. It is possible that this bullying can lead to damage to students' mental health. The purpose of this study is to analyze the relationship between body shaming and mental health. The research method used is regression analysis with a sample of 120 students selected based on certain criteria. The results show that Body shaming has an impact on the mental health of students. The results (Asymp. Sig. (2-tailed) show that Body shaming (> 0.495; sig = 0.000) and Mental health (> 0.852; sig = 0.000). This research also found that students of SMP Jayakarta who experienced body shaming had lower mental health scores compared to students who did not experience body shaming. The results of this study indicate that body shaming can be a risk factor for the mental health of students.